Struktur budaya masyarakat yang patriarkal mendorong perempuan tergantung terhadap lelaki, baik secara ekonomi, politik maupun sosial. Oleh sebab itu,meski terdapat perempuan yang mandiri secara ekonomi, namun masih pula tergantung pada lelaki, terutama secara emosional. Sebuah kesadaran semu mengakar kuat pada diri perempuan, bahwa ia tidak bisa bertahan tanpa keberadaan lelaki. Semisal, banyak perempuan berkarir, bahkan secara politik menduduki posisi strategis namun dalam relasi pribadinya dengan lelaki (dalam hal ini kebanyakan adalah pasangan), masih sangat bergantung. Pengorbanan demi pengorbananpun ia jalani tanpa sama sekali merasa dirugikan. Cinta yang dalam kehidupan sehari-hari masyarakat selalu digambarkan sebagai tindakan “pengorbanan sepenuhnya”, “melayani”, yang secara gamblang banyak ditujukan bagi perempuan begitu menghegemoni sehingga sulit sekali bagi perempuan untuk terbebas dari pemikiran demikian. Bahkan walau ia sudah memperoleh penyadaran-penyadaran yang maju mengenai pembebasan perempuan.
Ketergantungan secara emosional sangat tampak sekali pada perempuan. Perempuan, seering kali merasa tidak bisa mencurahkan apapun selain pada pasangannya. Kedekatannya hanya pada pasangan, tidak ada yang lain. Pasangan menjadi sandaran baginya, sehingga ketika sandaran itu tiba-tiba saja lenyap maka ia jatuh, tersungkur dan limbung. Aku tidak mengatakan, hal itu tidak bisa terjadi pada lelaki. Bisa saja, akan tetapi tetap saja lebih besar potensinya pada perempuan karena ia dibentuk menjadi mahkluk lemah, inferior, manusia ke dua. Sering kali ia tidak menyadari kekuatan dirinya, potensinya, bahwa ia bisa hidup tanpa bersandar pada pasangan. Bahwa, sebenarnya potensi manusia itu, perempuan terutama bisa membesar dan diolah tanpa bersandar pada pasangan. Potensi itu terlebih bisa diperjuangkan secara politik, melekat dalam perjuangan sosial masyarakat. Bergantung pada satu orang adalah hal konyol, menjadi lemah hanya karena hilangnya satu orang adalah hal paling bodoh. Benarkah adanya bahwa kita hanya bisa berbagi pada satu orang? Tidak berbagi persoalan sebaik-baiknya adalah dengan kolektif. Persoalan individu, sebaik-baiknya menjadi keresahan bersama, diselesaikan bersama.
Perempuan tidak boleh dan harus berjuang dalam pribadinya selain berjuang secara politik untuk terus mendobrak ideology patriarki jauh di dasar otaknya. Alam pemikirannya. Ikatan dalam hal ini memang membuat ketergantungan itu makin kokoh. Terlebih sebuah ikatan yang melembaga seperti keluarga/ pernikahan. Keluarga dalam hal ini tidak hanya mengikat secara emosional secara hukum, akan tetapi ia mengikat secara ekonomi. Sebuah ikatan ekonomi dimana tanggung jawab terhadap generasi selanjutnya, serta tanggung jawab terhadap kelangsungan produktivitas tenaga kerja dibebankan pada keluarga. Padahal semestinya hal itu menjadi tanggung jawab negara, dan Kapitalis, sebab proses produksi tidak akan bisa berjalan jika tenaga kerjanya tidak produktif (miskin, sakit-sakitan, bodoh dst). Oleh sebab itu, meski ikatan emosional dalam keluarga telah pudar, keluarga masih diusahakan kokoh berdiri demi kelangsungan ekonomi keluarga. Keluarga tetap dipertahankan pula oleh negara dan kapitalis demi mengurangi beban untuk membiayai produktivitas generasi selanjutnya sebagai tenaga kerja yang menjalankan roda kapitalisme. Saat kemiskinan mencekam mayoritas rakyat, sehingga timbul beberapa kasus kekerasan rumah tangga, pembunuhan bayi atau anak oelh sang ibu, maka perempuan menjadi sosok yang paling rentan dipersalahkan.
Dengan demikian, aku, perempuan, akan terus berjuang baik secara politik maupun diriku pribadi. Secara politik, aku, perempuan harus turut berjuang demi pembebasanku dan terus mendorong gerakan rakyat untuk terus melibatkan perempuan. agar ketika perjuangan rakyat meraih kemenangannya, perempuan juga turut terbebaskan. Secara pribadi, aku tidak akan bergantung pada pasangan. Harus independent, dalam segala putusan yang kuambil, dari segi pemikiran bahkan secara emosional. Dengan demikian, aku, perempuan akan menjadi sosok yang independent sepenuhnya, yang tidak akan limbung ketika tidak ada pasangan/ mantan pasangan untuk berkeluh kesah. Karena aku memiliki segudang kawan yang bisa kuajak sharing. Pasangan bukanlah center hidup kita, bukan pula sosok pahlawan yang bisa menyelamatkan kita. Perempuan adalah potensi tanpa batas yang mesti dikembangkan secara terus menerus sehingga menjadi salah satu kekuatan rakyat yang terpenting. Ke depan, tokoh nasional tidak akan lagi didominasi oleh lelaki namun juga oleh perempuan. Tokoh yang tidak hanya disetir demi memperoleh dukungan rakyat, namun pelaku yang sesungguhnya.
Welcome to revolution!!!!
Met datang di sebuah blog yang menyerukan nurani, cita-cita dan kebebebasan...
Tuesday, January 13, 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)