Di massa silam, di negriku ini yang kaya akan alam dan rempah-rempah pernah sekali waktu perempuan berani mengutarakan pendapatnya. Pernah sekali waktu perempuan turut bergulat dengan perjuangan merebut kebebasan negri ini. Pernah sekali waktu melawan ketika tubuhnya, pikirannya dibungkam dan disiksa. Itu adalah realita, kenyataan yang kemudian dibungkam oleh sebuah tiran selama lebih dari 30 tahun. Selama itu, aku melihat diriku dan beberapa anak perempuan lainnya harus berkonde dan berkebaya ketika hari Kartini tiba. Kata guru-guruku, Kartini adalah seorang gadis Jepara yang berani memperjuangkan emansipasi perempuan di masanya, yakni dengan memperjuangkan kesempatan bagi perempuan guna mengenyam pendidikan sama halnya dengan kaum laki-laki. Dalam pikiranku masa itu, Kartini adalah seorang perempuan berkebaya dan berkonde yang mendirikan sekolah bagi perempuan. Sampai kinipun aku masih hapal dengan lagu RA.Kartini. Begitu dangkal memang pengenalanku akan Kartini. Bagiku dia tak lebih dari seorang perempuan bangsawan yang iri melihat kakak laki-lakinya yang punya kesempatan untuk melanjutkan sekolah, sementara dirinya sendiri harus menjalani pingitan sebagai perempuan remaja yang siap untuk dinikahkan.Bagiku Kartini tak lebih dari seorang perempuan bangsawan yang ingin lepas dari pingitan namun pada akhirnya terpaksa tunduk pada ayahandanya yang ingin dia menikah seperti gadis-gadis lain di masanya. Akan tetapi kini pandanganku berubah. Kartini adalah seoran gperempuan luar biasa maju pada masanya. Bahkan mungkin terlalu maju meski ia terpaksa menjalani pernikahan yang sama sekali tidak diinginkannya. Kartini tidak hanya berbicara mengenai kesempatan pendidikan bagi perempuan, akan tetapi ia menggugat banyak hal, baik itu institusi keluarga sebagai produk patriarki, agama, maupun penindasan Belanda terhadap saudara-saudaranya setanah air. Selama lebih dari 30 tahun, Kartini hanya dipandang sebatas konde dan kebayanya tanpa memaknai perjuangannya sesungguhnya mengenai pembebasan perempuan. Jika dibandingkan dengan generasi perempuan saat ini, maka kesadaran Kartini jauh lebih maju. Ia seperti permata yang jatuh di tempat yang tidak suburm di semak belukar yang penuh duri, terhimpit dan akhirnya mati dengan meninggalkan harum yang semerbak di sekitarnya. Itulah Kartini. Generasi perempuan saat ini meski ia mengenyam pendidikan sampai tingkat tinggi, akan tetapi di antara mereka masih banyak yang berpikir jauh di belakang Kartini. Kesadaran perempuan akan kesetaraan gender, hak-haknya, bahkan kebutuhan akan pemebebasan perempuan belumlah maksimal. Banyak pula perempuan yang menduduki jabatan pemerintahan justru ikut serta mengambil kebijakan yang merugikan kaum perempuan seperti kebijakan kenaikan BBM yang dikeluarkan oleh seorang mentir keuangan yang berkelamin perempuan yakni Sri Mulyani. Padahal jelas kebijakan kenaikan harga BBM berdampak langsung bagi kaum perempuan yang nota bene mayoritas adalah ibu rumah tangga yang mengelola pendapatan dan pengeluaran sehari-hari. Sementara, di jamannya Kartini dengna keras mengkritik tatanan sosial masyarakat yang tidak adil pada rakyat Indonesia terutama kaum perempuan yang pada masa itu tidak hanya ditindas oleh kolonialisme akan tetapi juga oleh budaya patriarki yang masih mengakar kuar sehingga perempuan mengalami ketertindasan ganda. Setelah lepas dari penjajahan Belanda dan Jepang , memasuki era modern saat ini apakah perempuan sudah lepas dari ketertindasannya? Perlukah diperjuangkan?
Kehadiran Kartini pada masanya telah menginspirasi berdirinya organisasi-organisasi modern begitu juga dengan organisasi-organisasi perempuan. Sehingga perjuangan kemerdekaan baik di masa penjajahan Berlanda maupun Jepang, perena politik kaum perempuan tidak bisa begitu saja diabaikan. Terbukti dengan diselenggarakannya kongres Perempuan pada 22 Desember 1928 yang menyatakan bahwa gerakan perempuan harus mendukung dan terlibat dalam perjuangan pemebebasan perempuan. Kini tgll 22 Desember diperingati sebagai hari Ibu yang justru mendistorsi semangat gerakan perempuan untuk berpartisipasi secara politik dalam merebut kemerdekaan. Gerakan perempuan Indonesia pada era perjuangan kemerdekaan ditandai dengan berdirinya organisasi perempuan seperti GERWANI, PERWARI maupun organisasi perempuan lainnya yang berbaju agama. Hal itu menunjukkan bahwa gerakan perempuan sempat membesar di negri ini dan mempunyai peranan yang cukup besar dalam dunia perpolitikan dan tidak pernah gentar memberikan kritik terhadap proses pemerinthaan yang berlangsung termasuk ketika Soekarno melakukan poligami yang jelas-jelas ditolak oleh gerakan perempuan masa itu. Sementara setelah puluhan tahun berselang pasca kemerdekaan, poligami justru diamini dan menjadi tren di masyarakat kita dnegan munculnya film bertema poligami (Ayat-ayat Cinta) yang kemudian diikuti dengan sinetron-sinetron bertema sama di layar televisi kita. Itulah Indonesia saat ini, sebuah ironi yang menyakitkan memang. Sebenarnya sebuah hal yang selayaknya terjadi sebagai konsekuensi dari kehancuran gerakan perempuan yang dilakukan oleh rejim Soeharto. Meski sang ditaktor telah mati, namun jejak-jejak kelalimannya meninggalkan krisis yang tak kunjung usai. Naiknya era orde baru diawali dengan pembantaian jutaan rakyat diikuti dengan penghancuran gerakan rakyat termasuk gerakan perempuan. Beberapa capaian yang dihasilkan oleh gerakan perempuan kembali ke titik nol. Perempuan dikembalikan ke fungsinya sebagai ibu rumah tangga yang meski diijinkan bersekolah sampai tingkat tinggi namun tetap dibebani dengan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga yang dikatakan sebagai takdir tak terbantahkan. Peringatan hari Kartini maupun hari Ibu diarahkan sebagai penguat steretype perempuan yang selama era sebelumnya dilawan oleh generasi sebelumnya.Sehingga tidak heran ketika hari peringatan Kartini atau Hari ibu tiba maka yang dimaknai hanya sebatas konde dan kebaya, lomba memasak dan berlomba menjadi istri dan ibu yang baik. Peran perempuan semakin dibatasi dan diperparah dengan kondisi perekonomian yang berpihak pada kepentingan neoliberal sehingga kemiskinan semakin luas dan perempuanpun semakin tertindas.
Memang di era modern saat ini, perempuan diberi hak yang sama untuk mengenyam pendidikan, akan tetapi keberadaan perempuan masih saja di pandang sebelah mata di lapangan publik. Lihat saja lowongan pekerjaan yang ada di berbagai media yang menyertakan stereotype perempuan sebagai syaratnya seperti harus berpenampilan menarik untuk peremuan dengan tinggi badan dan berat badan yang sesuai dengan standar sosial yang ada. Demikian pula dengan gaji yang diperoleh, mayoritas buruh perempuan memiliki gaji lebih rendah, meski banyak perempuan yang mampu menempuh kesuksesan karir, hal itu lebih dikarenakan ia berasal dari kalangan menengah ke atas sebab pemiskinan terstruktur telah memberikan kesempatan yang tidak sama bagi semua perempuan. Oleh sebab itu, sebuah niat dan perjuangan untuk diri sendiri supaya bisa bertahan hidup atau berkarir tidaklah cukup. Dibutuhkan perjuangan perempuan bersama guna mewujudkan kesempatan yang sama bagi semua perempuan. Dalam artian kebebasan perempuan hanya akan bisa terwujud jika dilakukan bersama dengan gerakan rakyat lainnya dan hal itu pernah dilakukan oleh gerakan perempuan puluhan tahun silam. Sebuah pembelajaran yang cukup berharga. Berdasarkan paparan di atas, bisa disimpulkan bahwa salah satu persoalan perempuan adalah persoalan budaya patriarki yang masih mendiskriminasikan perempuan seperti dalam lingkungan kerja, keluarga maupun masyarakat. Selain itu, terdapat persoalan kemiskinan akibat kebijakan neoliberal di mana kebijakan ekonomi yang diterapkan diserahkan pada pasar tanpa turut campur pemerintah termasuk penjualan asset nasional sehingga rakyat tidak lagi memperoleh subsidi dan aset nasional yang hendaknya dikelola oleh negara serta dipergunakan semaksimal mungkin untuk kepentingan rakyat kini hanya diperuntukkan bagi kepentingan modal. Oleh sebab itu, tidak heran jika pemiskinan terus saja terjadi karena kekayaan alam negri ini hanay dikuasai oleh segelintir orang saja. Akibatnya, perempuan yang masih ditindas oleh patriarki harus pula merasakan pahit getirnya kemiskinan sementara beban sebagai ibu rumah tangga terus membebani dirinya. Tak jarang seorang ibu membunuh anaknya karena penderitaan yang menghujam, tak tahan lagi menanggung beban kemiskinan. Tak jarang pula seorang ibu hamil tewas karena kelaparan. Semua itu adalah kekekerasan atau penindasan sistematis oleh negara yang kebijakannya tidak berpihak pada kepentingan rakyat terutama perempuan dan lebh berpihak pada kepentingan modal. Sebuah kerakusan dari segelintir orang demi kekenyangan perutnya dan kemasyuran keluarganya di tengah krisis yang menggila. Lalu apa yang harus dilakukan gerakan perempuan saat ini?
Pasca terjatuhnya Suharto oleh kekuatan rakyat memberikan angin segar bagi demokrasi Indonesia. Organisasi-organisasi massa marak bermunculan, namuan gerakan perempuan sepertinya masih mati suri, menikmati tidur panjangnya. Memang terdapat LSM- LSM perempuan yang menjamur, kaan tetapi itu tak cukup menjawab problematik perempuan saat ini yang tertindas oleh Patriarki dan Kapiltalisme (Neo Liberal) bersama antek-anteknya. Akan tetapi, munculnya LSM-LSM bukanlah perkembangan tanpa arti. Sedikitnya, kehadiran LSM ini turut memperluas kesadaran gender meski tidak maksimal sebab belum melibatkan gerakan massa yang merupakan kekuatan dari perubahan dan lebih mengandalkan lobi-lobi politik elilt seperti class actiopn, hearing dst. Paling tidak, telah terjadi beberapa capaian seperti kebijakan kuota 30% dan diratifikasinya hukum internasional terkait hak-hak perempuan. Lebih lanjut, munculnya kelompok-kelompok diskusi perempuan di kampus-kampus merupakan perkembangan yang positif meski belum mempunyai perspektif gerakan perempuan yang cukup maju dan memang baru sebatas kelompok studi yang mendiskusikan persoalan perempuan. Kelompok-kelompok diskusi perempuan tersebut bisa menjadi embrio dari gerakan perempuan yang benar-benar mempunyai perspektif gerakan perempuan yang mampu melibatkan massa dan tidak elitis. Oleh karena itu, kelompok-kelompok diskusi ini harus dimajukan perspektifnya sebagai motor pembebasan perempuan. Hendaknya kelompok-kelompok disksui tersebut dinajukan perspektifnya dengan melakukan aksi-aksi langsung ke masyarakat untuk memebrikan penyadaran gender danperjuangan pembebasan perempuan. Tidak sebatas memeberikan advokasi, namuan juga mendorong mereka terlibat untuk membebaskan perempuan dari ketertindasan dengan mewadahi mereka dalam sebuah organisasi perempuan yang terus merespon berbagai persoalan rakyat dan problem khusus perempuan akibat kebijakan negara dan budaya patriarki. Ke sumuanya itu hanya bisa dilakukan dengan displin kerja yang tinggi tanpa pamrih dan penuh semangat serta dedikasi, sehingga dibutuhkan kader-kader yang militan, yang mampu memimpin perubahan serta tak terjebak pada perjuangan di tingkat elit atau parlemen. Sebab hanya dengna kekuatan massa lah perubahan bisa dilakukan, tanpa itu sebuah gerakan hanyalah akan menjadi sebuah omong kosong.
Hidup Perempuan!
No comments:
Post a Comment