Welcome to revolution!!!!

Met datang di sebuah blog yang menyerukan nurani, cita-cita dan kebebebasan...

Friday, November 30, 2007

Diculik, warga Temuwuh mengadu ke POLDA DIY

Tindak intimidasi terhadap korban pemotongan dana rekonstruksi ternyata tidak hanya menimpa warga Terbah, Gunung Kidul yang menjadi korban pemukulan beberapa waktu silam. Kali ini tindak intimidasi tersebut dialami oleh warga dusun Salam, Temuwuh, Dlingo Bantul, bernama Rukiyono. Pada hari Jum’at pagi (30/11) Rukiyono bersama dengan beberapa warga lainnya dan didampingi oleh kuasa hukumnya dari LBH I Work, Andhi Adriasto SH melaporkan kejadian yang menimpa Rukiyono pada hari jumat minggu lalu (23/11). Menurut Andhi, Rukiyono pada hari jum’at malam sekitar pukul 23.30 WIB (23/11) dijemput paksa di tempat kerjanya oleh beberapa orang atas suruhan Tim Desa, untuk menghadiri forum desa di rumah Puryitno. Dalam forum yang dihadiri 150 orang tersebut, Rukiyono dipaksa menandatangani surat pernyataan bahwa semua warga membatalkan laporan mengenai pemotongan dakon di desa Temuwuh ke LBH I-work. Tercatat, ada 45 warga yang melapor ke LBH I Work dengan jumlah potongan dakon yang bervariasi yaitu antara 3 sampai 10 juta. Dijelaskan pula, Rukiyono baru melapor ke POLDA DIY seminggu kemudian (30/11) karena merasa ketakutan.
Hal senada juga dipaparkan oleh salah satu warga, sebut saja Samson. Samson mengaku bahwa dia merupakan salah satu warga yang menjemput paksa Rukiyono hari jum’at malam itu (23/11). Dijelaskan Samson, ia dipaksa oleh Tim Desa untuk menjemput Rukiyono malam itu juga. Karena takut, maka Samson bersedia. Samson tidak sendirian, dengan dua mobil Cery, ia bersama lima atau tujuh orang lainnya menjemput paksa Rukiyono di tempat kerjanya yang terletak di Desa Ponggok, Jetis dan mengantar Rukiyono ke rumah Puryatno, tempat diadakannya forum desa untuk menyelesaikan persoalan pemotongan dana rekon. Menurut keterangan Samson,dua dari warga yang menjemput adalah aparat kepolisian benama Mardi (anggota tim Desa) dan Giyanto. Sesampai di rumah Puryatno, Rukiyono diminta menandatangani surat pernyataan bahwa ia tidak melapor ke LBH I-Work. Selain itu, data yang dimilii oleh Rukiyono juga dirampas oleh tim desa.

Monday, November 19, 2007

Obrolan singkat di angkringan

Sepulang dari liputan, aku memacu motorku dengan cepat. Peluh keringat di wajahku menunjukkan kelelahanku. Saat melewati jalan Kusuma negara aku terheran-heran dengan banyaknya polisi berjaga di sepanjang jalan tersebut. Aduh, pikirku bakal ada razia lagi. Sudah sebulan ini, aku tidak memegang STNK. STNKku telah raib di tangan BUndaku di Rembang. Bergegas kubelokkan arah motorku ke sebuah angkringan,menghindar dari razia yagn bakal membuat uangku melayang, apa lagi di akhir bulan seperti ini.

Sesampai di angkringan aku memesan teh jahe hangat dan sebatang rokok djarum. Saat itu pula kutangguhkan niatku untuk berhenti merokok, seperti sebelumnya kembali keubatalkan niatku berhenti merokok. Entah sudah yang ke berapa kalinya...

Sambil menghisap rokok, kutanyakan pada ibu penjual angkringan. "lho Bu, ada acara apa sih kok ramai sekali?" Dengan lugas ia menjawab "Bambang Yudhoyono datang mbak!" Kaget juga aku mendengar jawaban darinya. Sebagai seorang jurnalis (aku lebih suka kata jurnalis dari pada wartawan karena tidak bias gender. kalau wartawan selalu ada kata wartawati yang menunjukkan identitas kelamin)seharusnya aku tahu kabar tersebut. Selang beberapa menit kemudian keresahanku terjawab sudah. tampak iring-iringan mobil polisi yagn kemudian diikuti bukan oleh mobil RI tetapi rombongan sepeda yang mengkampanyekan climate change. Ibu penjual pun ikut terkaget. tebakannya ternyata salah...

Seorang lelaki paruh baya yang makan di angkringan mulai membuka pembicaraan "Presiden sekarang beda dengan yang dulu. Cuma Soekarno yang benar-benar punya wibawa..."
Ibu penjual angkringan menyahut"oalah Pak jaman sekarang mana ada pimpinan yang seperti Soekarno"
"Megawati pas jadi presiden kok ga kayak Soekarno ya?"
"Perempuan beda sama lelaki, sepinter-pinternya perempuan ya lebih pinter lelaki"
Aku menatap ibu itu, darah feminisku bergejolak, sekian lama sebelum menjadi jurnalis aku aktif memperjuangkan pembebasan perempuan. Akan tetapi aku tidak bisa menyalahkan ibu itu. Ia sama dengan perempuan lainnya yang terkungkung oleh budaya patriarki, peninggalan feodalisme yagn paling tua di dunia yagn serba modren namun masih menyimpan mistik.
"Nggak juga" Sahut lelaki itu"Sama saja kok pimpinan mau laki mau perempuan. Buktinya Fillipina presidennya perempuan tapi ga kayak Mega kan? Punya wibawa juga"
"Aah, pak! itukan di negara lain bukan di negara kita! Negara kita beda, semua serba duit. Lihat aja presiden kita. anak buahnya bisnis bunga, dia itkutin bisnis Bunga! Orang jual shabu-shabu ditahan di nusa kambangan kalo bisa ngasih duit paling juga bebas. asal Ada duit!"

Lelaki tua itu mengangguk-angguk. Sementara aku dan lelaki muda di depanku hanya bis amendengarkan. Aku memang sengaja diam, mencoba menyimak. Menjadi pendengar yang baik. Merekam dalam ingatan lalu kutuliskan di sini. Di blogku yang mungkin tak satu jua bersedia membaca...

Lelaki tua itu diam sejenak lalu menjawab lagi'yah... kita ini cuma orang kecil. Lebih baik diem"
"lha iya pak, wong cilik pancen kudu meneng" (orang kecil itu memang harus diam)
Obrlan singkat itu akhirnya terhenti sejenak. aku tak bisa mengikutinya lagi karena aku harus melanjutkan perjalananku ke sekretariat Aji. Termenung sebentar di depan komputer dan menuliskan pengalamanku hari ini. Termasuk obrolan singkat di angkringan. Sebuah ungkapan segelintir dari rakyat yagn mungkin tidak akan terdengar oleh penguasa negri ini...

Susahnya Menolak Amplop ....

Susahnya menolak amplop bagi ku sama susahnya dengan tetap menjadi perawan...
Sebuah momen yang tak terlupakan ketika aku meliput acara pemrov Diy hari ini. Setelah aku selesai liputan seorang pegawai dari BID memberiku amplop yang pastinya berisi uang entah berapa lembar. Ketika kukembalikan ia dengan gusar mengatakan bahwa ia pasti dimarahi atasan jika uang tersebut tidak diterima. Lelaki paruh baya itu bahkan mengejarku sampai ke halaman hotel, memohon. Dalam hati aku meringis, pedih. Seorang paruh baya yang mungkin hanya menjalankan tugas. Tak berdaya mengalirkan uang rakyat untuk kami para jurnalis.

Akhirnya aku tetap kukuh untuk menolak. Biar saja aku dibilang munafik, akan tetapi yang kupahami jika aku menerima uang dari beberapa pihak maka aku akan bergantung padanya. Uang seperti momok meski kita membutuhkannya. Aku hanya meyakini, bahwa tanggung jawab akan kesejahteraan jurnalis bukan pada nara sumber tetapi pada pengusaha media tempat mereka berkerja. Tempat mereka memberi keuntungan dengan peluh dan keringat.Juga tanggung jawab negara karena kami merupakan generasi bangsa yang seharusnya diberi hak untuk tinggal di buminya sendiri. Menikmati pendidikan dan kesehatan, sumber daya alam yang bisa diolah untuk kepentingan bersama bukan bagi segelintir pemodal...

Apakah itu hanya mimpi? bagiku tidak. Semua itu harus diraih dengan perjuangan yang mungkin tidak sebentar dan menghabiskan banyak energi. Semua itu harus dijalani...