Welcome to revolution!!!!

Met datang di sebuah blog yang menyerukan nurani, cita-cita dan kebebebasan...

Monday, November 19, 2007

Obrolan singkat di angkringan

Sepulang dari liputan, aku memacu motorku dengan cepat. Peluh keringat di wajahku menunjukkan kelelahanku. Saat melewati jalan Kusuma negara aku terheran-heran dengan banyaknya polisi berjaga di sepanjang jalan tersebut. Aduh, pikirku bakal ada razia lagi. Sudah sebulan ini, aku tidak memegang STNK. STNKku telah raib di tangan BUndaku di Rembang. Bergegas kubelokkan arah motorku ke sebuah angkringan,menghindar dari razia yagn bakal membuat uangku melayang, apa lagi di akhir bulan seperti ini.

Sesampai di angkringan aku memesan teh jahe hangat dan sebatang rokok djarum. Saat itu pula kutangguhkan niatku untuk berhenti merokok, seperti sebelumnya kembali keubatalkan niatku berhenti merokok. Entah sudah yang ke berapa kalinya...

Sambil menghisap rokok, kutanyakan pada ibu penjual angkringan. "lho Bu, ada acara apa sih kok ramai sekali?" Dengan lugas ia menjawab "Bambang Yudhoyono datang mbak!" Kaget juga aku mendengar jawaban darinya. Sebagai seorang jurnalis (aku lebih suka kata jurnalis dari pada wartawan karena tidak bias gender. kalau wartawan selalu ada kata wartawati yang menunjukkan identitas kelamin)seharusnya aku tahu kabar tersebut. Selang beberapa menit kemudian keresahanku terjawab sudah. tampak iring-iringan mobil polisi yagn kemudian diikuti bukan oleh mobil RI tetapi rombongan sepeda yang mengkampanyekan climate change. Ibu penjual pun ikut terkaget. tebakannya ternyata salah...

Seorang lelaki paruh baya yang makan di angkringan mulai membuka pembicaraan "Presiden sekarang beda dengan yang dulu. Cuma Soekarno yang benar-benar punya wibawa..."
Ibu penjual angkringan menyahut"oalah Pak jaman sekarang mana ada pimpinan yang seperti Soekarno"
"Megawati pas jadi presiden kok ga kayak Soekarno ya?"
"Perempuan beda sama lelaki, sepinter-pinternya perempuan ya lebih pinter lelaki"
Aku menatap ibu itu, darah feminisku bergejolak, sekian lama sebelum menjadi jurnalis aku aktif memperjuangkan pembebasan perempuan. Akan tetapi aku tidak bisa menyalahkan ibu itu. Ia sama dengan perempuan lainnya yang terkungkung oleh budaya patriarki, peninggalan feodalisme yagn paling tua di dunia yagn serba modren namun masih menyimpan mistik.
"Nggak juga" Sahut lelaki itu"Sama saja kok pimpinan mau laki mau perempuan. Buktinya Fillipina presidennya perempuan tapi ga kayak Mega kan? Punya wibawa juga"
"Aah, pak! itukan di negara lain bukan di negara kita! Negara kita beda, semua serba duit. Lihat aja presiden kita. anak buahnya bisnis bunga, dia itkutin bisnis Bunga! Orang jual shabu-shabu ditahan di nusa kambangan kalo bisa ngasih duit paling juga bebas. asal Ada duit!"

Lelaki tua itu mengangguk-angguk. Sementara aku dan lelaki muda di depanku hanya bis amendengarkan. Aku memang sengaja diam, mencoba menyimak. Menjadi pendengar yang baik. Merekam dalam ingatan lalu kutuliskan di sini. Di blogku yang mungkin tak satu jua bersedia membaca...

Lelaki tua itu diam sejenak lalu menjawab lagi'yah... kita ini cuma orang kecil. Lebih baik diem"
"lha iya pak, wong cilik pancen kudu meneng" (orang kecil itu memang harus diam)
Obrlan singkat itu akhirnya terhenti sejenak. aku tak bisa mengikutinya lagi karena aku harus melanjutkan perjalananku ke sekretariat Aji. Termenung sebentar di depan komputer dan menuliskan pengalamanku hari ini. Termasuk obrolan singkat di angkringan. Sebuah ungkapan segelintir dari rakyat yagn mungkin tidak akan terdengar oleh penguasa negri ini...

No comments: