Buruh Pers atau pekerja media merupakan pekerjaan tanpa mengenal waktu yang tidak hanya menjual otak tapi juga otot, tenaga. Akan tetapi, sering kali nasibnya terabaikan, tertindas secara sistematik. Ironis? Tentu saja. Media yang mempunyai fungsi kontrol terhadap kekuasaan, sosial, yang memperjuangkan demokrasi, HAM, menguak fakta untuk kepentingan publik ternyata sebagain besar justru tidak memberikan ruang demokrasi bagi pekerjanya. Inilah wajah media yang berorintas bukan lagi pada kepentingan publik tapi pada profit perusahaan, pundi-pundi uang yang memberi keuntungan. Buruh pers hanyalah alat untuk menghasilkan keuntungan. Carilah Berita sebanyak-banyaknya, maka kami akan menghasilkan keuntungan berlimpah dari keringatmu! (dengan catatan berita itu sama sekali tak boleh menyinggung kepentingan pemasang iklan termasuk politikus, penguasa, pebisnis yang rajin pasang iklan)
Apa yang dialami Martha hanyalah contoh kecil dari sekian banyak nasib buruh pers yang memprihatinkan di Indonesia. Banyak buruh pers yang harus bekerja tanpa mengenal waktu, namaun tak ada sama sekali jaminan sosial, keselamatan dari perusahaan media tempat ia bekerja. Lalu????? Hnaya perlu menyatukan langkah dalam sebuah wadah perjuangan untuk memperbaiki nasib insan pers Indonesia sekaligus memperbaiki mutu dari jurnalisme itu sendiri.
Bersatulah Seluruh Buruh Pers Indonesia!
Bersatulah Seluruh Buruh Indonesia!
Hidup Buruh!!!!
Welcome to revolution!!!!
Met datang di sebuah blog yang menyerukan nurani, cita-cita dan kebebebasan...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment